Senin, 02 Februari 2009

ARTI SEBUAH NAMA

Terimakasih pada orangtuaku yang dah ngasih nama Fauzi kepadaku.. (maaf pak, bu, akhir-akhir ini saya menambahkan label "nan keren" di nama saya)
Nama adalah doa.. Ya.. TERBUKTI .. TERBUKTI..
Fauzi : KEBERUNTUNGAN, KEMENANGAN..
Beberapa saat yang lalu saya liat nilai, deg2an karena yang keluar nilai mata kuliah yang susah dan aku kemaren gak bisa.. (TEPATNYA KURANG BELAJAR, hanya belajar malam harinya mulai jam 8 malam-11 malam terus tidur, padahal ujian setengah 8 pagi).. Pokokmen kurang persiapan.. Ra niat.. Ngerjain pun geleng2 kepala liat temen2 yang begitu cepat menulis lembar-demi lembar jawaban mereka.
Tadi malam sempat shock karena temanku yang kategori "pintar" dapet nilai C pada mata kuliah Analisis Biaya. Ini untuk kedua kalinya kita ambil mata kuliah ini coz tahunkemaren pada dapet jelek semua dan 80% mengulang.. Lha aku oleh opo? C? D? atau E/ Kemaren mid semester cuma dapet nilai 44....(amit2 ngulang lagi)
Dan pas dilihat ternyata.. Tretetetetetet... B.. TAK PERCAYA.. Mosok sih..
Begitu juga mata kuliah teknik kehandalan, dapet B juga.. Padahal 3 soal aku cuma yakin 1 soal...(Lainnya pengawuran, baik rumus dan jawaban)
Aku bersyukur dan merasa sangat beruntung.. KEBERUNTUNGAN seperti ini bukan hanya terjadi sekali, tapi berkali-kali dalam hidupku... Subhanallah..
Kadang juga sering mendapat cobaan, tapi ternyata di kemudian hari cobaan dan ujian tersebut juga menjadi keberuntungan dan kemenagan bagiku.. Terimakasih ya Allah.. Kadang jadi tak enak sendiri dengan teman-teman yang sudah berusaha keras, bahkan sangat keras tapi ternyata hasilnya tidak sesuaidengan yang diharapkan.. Sementara aku yang kuliah serampangan, sering bolos (jangan ditiru), dan dikenal sebagai mahasiswa yang paling sering ketiduran saat kuliah di TI angkatan "06 ini ternyata sangat bejo/beruntung.. sungguh beruntung.. Bahkan pernah juga aku dapet nilai lebih tinggi dari orang yang ngajari aku tiap ada PR dan ngajari pas malem sebelum ujian.. (pasti orangnya gelo, mangkel, dan geleng2 kepala).. maafkan saya teman..
Yang jelas sampai saat ini saya sangat bersyukur, dan semoga untuk seterusnya.. "Sesungguhnya manusia tidak akan mendapatkan melainkan apa yang ia usahakan".. Q.S.. opo yo.. aku lupa.. Oh, ya, masih ada 4 mata kuliah lagi belum keluar nilainya.. doakan, doakan...

Minggu, 01 Februari 2009

SUSAHNYA MENJADI KONSISTEN

Membaca Al-Qur’an memang banyak manfaatnya. Terkadang kita banyak menemukan ayat-ayat yang sangat memberi inspirasi. Terkadang juga banyak pelajaran dan hikmah yang bisa digali dari sana. Bahkan terkadang dengan Al-Qur’an lah perantara Allah untuk menegur hambanya agar bisa berintrospeksi. Seperti yang saya alami beberapa saat yang lalu.

Pada saat itu saya membaca Q.S Ash-Shaff , sya tertegun ketika membaca ayat kedua dan ketiga :

Yaa ayyuhalladzina aamanu lima taquuluu maa laa taf’aluun (2) Kabura maqtan ‘indallahi antaquuluu maa laa taf’aluun (3)

Artinya :

Hai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan apa yang tidak kamu perbuat? (2) Amat besar Kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan (3)

Jika dihubungkan dengan kehidupan sehari-hari, mungkin peringatan Allah dalam ayat tersebut memang banyak terjadi. Tidak perlu jauh-jauh mengambil contoh, saya akan mengambil sampel dari diri saya pribadi sebagai seorang pemuda dan mahasiswa.

Kebetulan beberapa hari ini saya aktif menulis, mayoritas tentang problematika dan permasalahan bangsa karena saya sangat prihatin dengan kondisi masyarakat dan bangsa saat ini. Ibaratnya kita mengalami jaman jahiliyyah modern. Saya telah banyak mengeluarkan kritik terkait dengan kinerja birokrasi dan pemerintahan Indonesia saat ini, di mana banyak terjadi penyimpangan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Dan penyimpangan tersebut terjadi di berbagai bidang dan tingkatan.

Yang mungkin menjadi renungan dan introspeksi adalah ketika kita memposisikan diri sebagai mereka/pemerintah, apakah kita mampu membuktikan konsistensi dari kata-kata atau tulisan yang kita buat dengan tindakan nyata? Ketika nantinya kita duduk di kursi-kursi pemerintahan, parlemen, ataupun bidang yang lain, apakah kita mampu membuktikan kata-kata kita menjadi tindakan nyata, ataukah kita akan sama saja, bahkan lebih buruk dari kondisi yang ada sekarang. Intinya apakah :

KATA = TINDAKAN?

Setelah dipikir-pikir, ternyata sangat susah menjadi orang yang konsisten/istiqomah antara perkataan dengan perbuatan. Kita sering mengingatkan, mengkritik, dan menasehati orang lain tapi kita sendiri tidak mau berusaha melakukannya. Sebagai contoh, seorang ayah yang menyuruh anaknya yang beranjak dewasa agar rajin sholat padahal sang ayah sendiri sholatnya masih bolong-bolong. Seorang pemimpin yang menyuruh staffnya datang rapat tepat waktu tapi ternyata sang pemimpin sendiri sering telat, dan masih banyak lagi. Intinya tidak adanya keteladanan yang bisa diberikan.

Itulah yang membuat diri saya pribadi terkadang khawatir, apakah nantinya jika benar-benar masuk dalam sebuah sistem pemerintahan saya mampu konsisten antara apa yang diucapkan sekarang dengan apa yang akan saya lakukan kelak. Pilihannya cuma dua, apakah “merubah sistem” ataukah “dirubah oleh sistem” itu sendiri. Dan saya sangat sadar bahwa sistem yang berjalan di Indonesia saat ini sudah bercokol dengan sangat kuatnya sehingga mayoritas yang terjadi adalah kondisi kedua, di mana orang di rubah oleh sistem. Ambil contoh adalah aktivis 1998, yang saat ini duduk di kursi DPR. Ternyata banyak juga dari mereka yang akhirnya terjebak dalam sistem dan menjadi sosok yang berbeda jauh dari mereka sebelumnya. Bahkan beberapa ada yang terlibat korupsi juga.

Ya, semuanya memang tidak semudah yang dibayangkan. Selama ini saya memang mempunyai sifat tidak suka bila ada ketidakmapanan dan penyelewengan terjadi, dan sering melontarkan kritik dan saran. Dan seperti biasa, ketika jiwa muda berbicara maka sedikitnya pasti ada pengaruh emosi di sana. Yang harus diperhatikan adalah bagaimana mengelola kritik, saran, dan emosi tersebut agar nantinya juga bisa menjadi pelajaran berharga bagi diri kita dan sebisa mungkin ikut memberikan penyelesaian/solusi terhadap masalah. Bukan justru menjadi masalah baru.

Selama menjadi mahasiswa, banyak sekali pengalaman dan kejadian yang membuat saya cukup miris juga. Mahasiswa sekarang, termasuk anak-anak BEM, organisasi yang saya tempati ternyata banyak yang mengidap virus inkonsistensi ini. Banyak yang berkata ingin menjadi orang besar dan sukses di masa depan, tapi ternyata kebiasaan yang dilakukan sangat tidak mencerminkan calon orang sukses, misal : ingin jadi pemimpin yang disiplin tapi sering telat datang rapat, ingin menciptakan pemerintahan yang bersih tapi ternyata menjaga kebersihan ruang rapat dan lingkungan sekeliling saja tidak bisa terlaksana, ingin menjadi profesional muda tapi dalam kepanitiaan acara tidak bisa bersikap dan bertindak profesional.

Itulah penyakit mahasiswa, yang harus disadari dan dihilangkan kalu benar-benar ingin menjadi penerus pucuk kepemimpinan bangsa ini. Yang bisa dilakukan sekarang adalah memulai dari diri pribadi. Berusaha untuk jadi mahasiswa yang konsisten antara ucapan dengan perbuatan. Yang saya sarankan adalah mari kita gunakan logika orang adzan, di mana mu’adzin mengajak orang lain sholat, namun nantinya mu’adzin juga ikut sholat. Kita menasehati seseorang untuk melakukan sesuatu kebaikan, mengandung konsekuensi bahwa kita juga harus berusaha melakukannya juga dengan usaha maksimal. Wallahu a'lamu bisshowab.

APA BEDA PENGHUNI SURGA DAN PENGHUNI NERAKA?

Beberapa hari yang lalu, ketika mengaji saya mendapatkan cerita yang sangat menarik dari ustadz saya tentang perbedaan penghuni surga dan neraka. Dalam hadist qudsi dikisahkan bahwa pada suatu ketika Allah hendak menunjukkan kepada Nabi Muhammad SAW tentang kondisi ahli surga dan ahli neraka.

Maka diajaklah Nabi Muhammad oleh malaikat Jibril memasuki sebuah ruangan besar. Dalam ruangan tersebut terdapat meja makan yang besar dimana terdapat semangkok besar makanan lezat yang terhidang di dalam mangkok. Di sekeliling meja terdapat beberapa orang yang duduk di kursi menghadap ke arah mangkok tersebut dengan masing-masing memegang sebuah sendok yang panjang. Namun anehnya kondisi tubuh mereka sangatlah kurus, seperti kurang makan. Padahal di hadapan mereka terdapat semangkok makanan besar yang cukup untuk mereka semua. Taukah kenapa?

Kemudian Nabi diajak menuju ke ruangan yang lain lagi. Kondisi ruangan yang hampir sama dengan ruang pertama. Namun bedanya, orang-orang yang duduk di sekeliling meja makan tersebut tubuhnya gemuk-gemuk dan sehat. Tampak senyum kegembiraan di wajah mereka. Taukah perbedaan antara ruang pertama dan ruang kedua?

Ruang pertama adalah gambaran orang-orang penghuni neraka sedangkan ruang kedua adalah gambaran orang-orang yang menghuni surga.Perbedaannya adalah, pada ruang pertama, orang-orang sangat kurus tubuhnya karena mereka bisa mengambil makanan dari mangkok besar di tengah dengan sendok panjang yang mereka miliki, tapi mereka tidak bisa memakannya karena sendok itu terlalu panjang? Jadi susah untuk memasukkan makanan ke dalam mulut. Sementara pada ruangan kedua(gambaran penghuni surga), mereka gemuk-gemuk karena mereka mengambil makanan dengan sendok yang panjang tadi, kemudian saling menyuapi satu sama lainnya sehingga semua malah bisa makan dan gemuk.

Hikmah :

Calon penghuni neraka adalah orang-orang yang egois yang selalu memikirkan dirinya sendiri, tak mau berbagi dengan saudaranya, tak mau memikirkan saudaranya yangberada dalam kesulitan. Mereka tidak sadar bahwa keegoisan mereka justru akan menjadi penyebab kehancuran diri mereka sendiri.

Calon penghuni neraka adalah orang-orang rela berkorban demi saudaranya, dan mencintai saudaranya sebagaimana mencintai diri mereka sendiri. Walaupun dirinya sendiri sebenarnya membutuhkan bantuan, seorang mukmin mau untuk mendahulukan saudaranya. Dan inilah tingkatan tertinggi dari ukhuwah, yaitu itsar (saling berkorban/mendahulukan kepentingan saudaranya yang lain). Jadi kebahagiaan seorang sahabat/saudara niscaya adalah kebahagiaan bagi sahabat/saudaranya yang lain.