Sabtu, 02 Mei 2009

Sebuah Kisah tentang Potensi Diri

Potensi diri, dua kata yang sarat akan makna bagi setiap orang dan setiap orang berjuang untuk mengetahui dan mendapatkannya. Tidak jarang seseorang melihat pada potensi yang dimiliki orang lain dan begitu terkagum-kagum dibuatnya, sehingga berusaha meniru orang lain untuk bisa mendapatkan potensi yang sama. Pun tak sedikit juga yang akhirnya gagal di tengah jalan dan frustasi dalam mencari “Apa sih yang benar-benar hebat dari diri saya?” Jika sikap frustasi tersebut tidak dikelola dengan baik, yang timbul justru rasa tidak mensyukuri nikmat/kufur berkempanjangan dan menyalahkan Tuhan kenapa dirinya tidak punya kelebihan apa-apa. Kalau boleh saya ibaratkan, potensi diri ibarat tulisan di dahi kita, kita tak akan dapat melihatnya tanpa bercermin di kaca (evaluasi diri dan introspeksi) dan juga bertanya kepada orang lain.

Suatu saat ketika ngaji saya bertemu dengan teman saya, dan kemudian dia bercerita tentang kehidupan salah seorang sahabat nabi. Ceritanya kurang lebih seperti ini :

Pada zaman Rasulullah SAW, hiduplah seorang sahabat yang sangat kaya raya bernama Abdurrahman bin Auf. Sahabat Rasulullah yang satu ini terkenal sebagai saudagar dan entrepreneur ulung jazirah Arab yang gemar bersedekah. Walaupun terus bersedekah, harta Abdurrahman bin Auf seolah-olah tak pernah ada habisnya. Sering ketika umat islam berperang, ia menyumbang sampai ribuan unta atau kuda dengan peralatan dan senjata lengkap. Kalau dinominalkan sekarang berapa ya, mungkin bisa puluhan milyar rupiah. Bukan imbalan harta dunia dari Allah yang beliau cari, tapi beliau ingin termasuk dalam orang-orang yang pertama masuk syurga. Sifat beliau yang tidak cinta “dunia” digambarkan ketika hijrah dari Makkah ke Madinah. Semua harta beliau ditinggalkan di Makkah demi menyusul Rasulullah ke Madinah.

Sesampainya di Madinah ada cerita menakjubkan, sahabat Anshar (orang-orang Islam Madinah) yang terkenal sangat baik bersedia membagi separuh hartanya kepada kaum Muhajirin (Sahabat yang hijrah dari Makkah). Tahukah apa yang dilakukan oleh seorang Abdurrahman bin Auf? Ia dengan santun menolak tawaran sahabat Anshar dan cuma bertanya, “Saudaraku, di manakah letak pasar?” Begitu tahu letak pasar beliau segera bergegas ke sana untuk memulai perniagaan/berdagang. Luar biasanya, dalam waktu singkat ia bisa kembali menjadi orang kaya yang disegani di Madinah. Tak pernah ia meninggalkan kebiasaan lamanya yakni bersedekah.

Pada suatu ketika, di tengah jalan beliau bertemu dengan salah seorang sahabat yang baru saja menghadiri forum dengan Rasulullah. Sahabat yang ditemui Abdurrahman bin Auf ini hidup sangat sederhana, bisa dikatakan miskin namun beliau adalah ahli ibadah. Setelah bertegur sapa dan salam, Abdurrahman bin Auf kemudian bertanya kepada sahabat tadi tentang apa yang didapat dari forum /pertemuan bersama Rasulullah. Dengan sangat antusias sahabat tadi bercerita bahwa kata Rasulullah nantinya di akhirat orang-orang miskin namun ahli ibadah akan lebih dulu masuk syurga dibandingkan dengan orang-orang kaya. Alasannya ialah bahwa orang yang kaya lebih lama hisabnya karena harus dimintai pertanggungjawaban atas semua hartanya, apakah dinafkahkan dan dipergunakan dengan baik dan ditunaikan haknya/zakatnya.

Sesampainya di rumah, Abdurrahman bin Auf bingung bukan main, di satu sisi ia ingin mendapatkan pahala dengan menyedekahkan hartanya, di sisi lain ia ingin nantinya di akhirat bisa lebih cepat masuk syurga bersama Rasulullah. Setelah merenung cukup lama akhirnya beliau memutuskan “AKU INGIN MENJADI ORANG MISKIN”. Dan beliau pun mereka-reka cara agar bisa cepat miskin. Akhirnya didapatkanlah ide yang bisa dikatakan ide gila. Apa itu? Semua hartanya dibelanjakan untuk membeli buah kurma di jazirah arab dengan kualitas yang jelek-jelek, dengan harapan bahwa tak ada lagi warga Arab yang tertipu oleh pedagang yang menjual kurma-kurma jelek. Kemudian kurma-kurma tersebut dibiarkan menumpuk di gudang-gudang beliau yang tersisa. Dan dimulailah kehidupan Abdurrahman bin Auf sebagai OMB (Orang Miskin Baru) .

Allah SWT ternyata mengetahui niatan Abdurrahman bin Auf ini. Seolah-olah tak rela jika Abdurrahman bin Auf meninggalkan kebiasaannya bersedekah dan menjadi donatur utama umat muslim setiap kali berperang, Allah pun memperlihatkan daya kuasanya yang begitu besar. Beberapa minggu setelah Abdurrahman bin Auf menjadi miskin, terjadi fenomena aneh. Coba tebak apa hayo??? Yap, ternyata pohon-pohon kurma di daerah Arab banyak yan g mati dan tidak berbuah lagi. Dalam waktu singkat di arab terjadi krisis kecil-kecilan, yakni KRISIS KURMA..!!

Spontan saja banyak pedagang-pedagang kurma mendatangi rumah Abdurrahman bin Auf untuk membeli kurma beliau yang kualitas jelek dengan harga dua kali bahkan tiga kali lipat. Beliau sangat bingung dengan fenomena tersebut. Kurma di gudangnya dalam sekejap habis. Kekayaanya beliau pun dalam waktu singkat telah kembali dengan jumlah berkali lipat. Luar Biasa....!!!

Akhirnya beliau menyadari bahwa Allah telah memberikan kelebihan potensi berupa pengelolaan harta dan perniagaan yang hebat. Allah menghendaki beliau sebagai orang yang mensupport perjuangan dakwah dari segi finansial. Beliau menyadari bahwa tiap manusia telah diberikan potensi dan jalan ibadahnya masing-masing. Akhirnya beliau pun tetap menjadi saudagar kaya raya yang gemar bersedekah. Bahkan Rasulullah memasukkan beliau ke dalam daftar 10 orang sahabat yang dijamin akan masuk syurga.

Dari cerita di atas betapa kita seharusnya sadar akan potensi yang kita miliki, entah itu menulis, berdagang, olahraga, akademis, dan sebagainya. Kita hanya perlu untuk terus mengasah kemampuan yang sekiranya kita bisa “HEBAT” di situ dan bukan sekedar “BISA”, karena setiap orang punya potensinya masing-masing yang unik. Kita mungkin tak menyadari bahwa pengamen yang kita temui sebenarnya punya bakat sehebat Nidji, atau satpam SKK di kampus bisa bermain bola sehebat Cristiano Ronaldo, atau Tukang Bakso di dekat rumah kita punya bakat Public Speaking dan komunikasi seperti SBY. Orang-orang tersebut hanya belum bisa mengenali potensi dirinya sendiri, dikarenakan kurangnya faktor-faktor sebagai berikut :

1. Usaha dan Kerja Keras untuk melatih potensi unik yang dimiliki.

2. Evaluasi diri, selalu berusaha menjadikan diri lebih baik dari waktu ke waktu. Ingat prinsip Kaizen dari Toyota Way, Kaizen artinya continues improvement / perbaikan terus menerus.

3. Keberuntungan, yang saya maksud “keberuntungan” di sini adalah adanya “kesempatan emas” disertai dengan adanya “kemampuan” untuk menangkap peluang emas tersebut. Itulah orang-orang yang beruntung.

Sekian dulu tulisan saya, tulisan ini juga dibuat oleh orang yang masih terus mengasah potensi-potensi yang dimilikinya. Harap maklum bila banyak kekurangan. Semangat..!!!

Jumat, 24 April 2009

Facebook, from Networking to Not Working

Facebook, sebuah fenomena di dunia maya yang mengundang decak kagum. Hanya dalam hitungan bulan saja, pengguna layanan jejaring sosial ini mencapai 200 juta orang lebih di seluruh dunia. Facebook menjadi tren mulai dari anak-anak sampai orangtua pun ikut-ikutan. Sang senior, Friendster pun dibuat geleng-geleng kepala dengan Naughty Boy ini. Facebook hadir dengan keunggulan real time information, on line friends, chatbox, serta open platform bagi situs layanan atau perusahaan lain yang ingin join di dalamnya. Hal tersebut membuat Facebook menjadi situs terbesar ke 3 di dunia saat ini.

Banyak orang beralasan ingin nambah teman, menjalin networking, atau bahkan mencari jodoh lewat facebook. Ada juga yang menggunakannya sekedar pamer kalo dirinya famous and friendly dengan banyaknya jumlah teman di friendlist. Ada juga yang menggunakannya sebagai sarana hiburan dan refreshing, tergantung niat masing-masing. Yang jelas orang-orang tersebut ingin mengatakan kepada anda “ Rugi deh kalo gak punya facebook, buruan ikutan..”, karena demikian cintanya mereka terhadap facebook. OK, mereka benar, karena memang sejauh ini facebook dipandang sangat bermanfaat dalam berhubungan dan berkomunikasi dengan orang lain, istilah jawanya networking. Sampai-sampai beberapa perusahaan pun mencari tahu karakter calon karyawannya lewat facebook.

Hemm.. Tapi tunggu dulu, apakah memang benar demikian? Apakah Facebook hanya punya segi positif saja? Jwabannya tentu saja tidak. Justru demam facebook menjadi penyakit yang sangat berbahaya dan harus dihindari. Apapun itu, jika porsinya berlebihan justru akan merugikan.

Hal ini terkait dengan pengamatanku belakangan ini, tak perlu jauh-jauh, di BEM MFT UGM yang bias dikatakan kantor kerja sehari-hari. Fasilitas wifi yang semula diharapkan bias bermanfaat bagi akses informasi bermanfaat kini mulai melenceng dari tujuan awal. Cba lihatlah ketika datingke BEM, yang bias kita lihat adalah laptop-laptop bergelaetakan dengan user masing-masing, semuanya dengan gaya sendiri-sendiri. Dan situs apakah yang dibuka? Maka jawabannya adalah facebook..! 90% paten. Jika bukan facebook, yang dibuka adalah one manga/naruto. Selain itu, ngegame PES 2009 dan tidur.. Lunar Binasa..! Bahkan kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan ketika ada rapat, entah departemennya sendiri ataupun departemen lain.

Hal inilah yang membuatku khawatir belakangan ini, bahwa BEM bukan lagi menjadi tempat dibangunnya kultur produktif. Dulu BEM disukai dan ramai setiap hari karena diskusi dan obrolan menarik , mendidik serta kekeluargaan yang hangat. Karakter ini sedikit demi sedikit mulai berkurang, berganti dengan kebiasaan facebookan dan nge-game. Alasan ke BEM pun berubah menjadi facebookan dan ngegame. Kejadian yang sama tidak hanya terjadi di BEM, tetapi juga di kantor-kantor perusahaan swasta maupun instansi pemerintah. Baik istirahat maupun jam kerja ada saja yang bermain dengan facebook. Korupsi waktu. Bahkan ada yang lalai dengan pekerjaannya, dan yang lebih ditakutkan adalah melalaikan ibadahnya, melalaikan sholatnya. “Maka celakalah orang-orang yang sholat, yakni orang-orang yang melalaikan sholatnya” (Q.S. Al-Ma’uun ayat 4).

Dampaknya ialah, Facebook kini bukan lagi sarana untuk networking, tapi justru candu yang membawa kita pada kultur notworking. Facebook hanyalah sarana, bukan kebutuhan pokok. Jangan sampai kecanduan kita pada facebook layaknya orang yang kelaparan mencari makanan. Seringkali kujumpai teman yang sehari saja gak bias kalo gak buka facebook, kegatelan.. aduh aduh.. Beberapa kelemahan lain dari facebook :

Banyak orang asal nge-add teman di facebook tanpa peduli itu teman sebenarnya atau bukan. Kita hanya mengenal orang lewat profilnya saja dan interaksi lewat chating mungkin, tentu saja itu belum cukup untuk menilai teman secara lebih mendalam.

Facebook memancing kebohongan, banyak orang memalsukan data diri dengan tujuan tertentu, yang sudah nikah ngaku single, yang lulusan SD ngaku sarjana, foto jelek diganti foto orang lain yang bagus.

Hati-hati dengan informasi diri yang anda tulis atau anda sharing-kan di facebook. Pihak luar seperti Amerika dan Yahudi dengan sangat mudah mengambil informasi penduduk sebuah Negara, isu-isu yang sedang hangat, serta keleahan-kelemahan Negara itu lewat facebook. Terkadang mereka melakukan perang pemikiran melalui facebook tanpa kita sadari. Sedikit demi sedikit pola pikir kita mereka ubah tanpa kita sadari. Mungkin ini terkesan lebay sih, tapi ini mungkin terjadi, sangat mungkin malah.

Facebook melalaikan orang terhadap kewajiban kerjanya dan kewajiban ibadahnya. Membuang waktunya dengan hal sia-sia. Barangsiapa yang waktunya tidak dihabiskan untuk kebaikan, niscaya waktunya tersebut akan diisi dengan keburukan dan kemungkaran. Ketika orang-orang berpendidikan di suatu Negara sudah lalai akan ibadahnya, lalai akan kerjanya, Negara itu akan mudah jatuh atau dijatuhkan baik dengan cara fisik maupun pemikiran.

Yah, kesimpulannya, facebookan sah-sah saja asal bias memanage diri dan waktu agar jangan sampai kecanduan.

Rabu, 22 April 2009

Cobaan Bertubi-tubi

Innalillahi wainna ilaihi roji’uun, belakangan ini kayaknya cobaan bertubi-tubi dating silih berganti. Yah mungkin ini salah satu jalan Allah mengingatkan hambaNya, atau menguji hambaNya. Beberapa cobaan yang dating silih berganti :

· 2 minggu yag lalu helmku ilang, tumben di sekitar asrama ada maling.. biasanya aman2 wae.

· 1 minggu yang lalu bajuku yang kurendam diember kotor semua kena kotoran tikus, ancur kabeh bajuku jadi bernoda hitam-hitam. Gak bisa dihilangin.

· Puncaknya Jumat 17 April, HP kesayanganku ilang, 750 nomor berharga ilang semua, termasuk SMS special dan berharga dari teman2. Kayaknya jatuh di jalan, atau dicolong orang? Gak tau, bingung.. Soalnya pas mau ujian mid.. Woro2, barang siapa menemukan HP-ku, jika wanita akan kujadikan istri (ra bakal gelem lah), jika laki-laki akan saya nikahkan dengan sepupu saya jurusan Teknik Kimia 2008.. Pinter lho.. (Bercanda lho Mbak).. Ilang yo ilang.. Ikhlaskan..

· Sabtu 18 April, musibah kembali terjadi, ban motor belakang bocor pas lagi di Pogung, padahal baru kuganti 2 bulan lalu. Ada apa lagi ini, terpaksa nuntun panas2, dan terbukti Jogja memang tambah panas.. Sampe di tukang tambal, ternyata ban dalam sobek pas dop-nya, jadi harus ganti.. Astaghfirullah, mosok baru 2 bulan harus ganti lagi?

· Sabtu siang kumpul KKN, aku kepilih jadi koor Danus, terpaksa, padahal tadinya masuk KKN cuma mo bantu2 dan jadi orang low profile.., ternyata kepilih jadi danus.. Huh, sepertinya aku salah ngasih CV, pengalaman oragnisasi dan kepanitiaan blab la bla belum pada tak hapus.. jadi nambah kerjaan, padahal pengen fokus belajar..

· Selasa, 21 april, cobaan berlanjut. Pagi hari ketika mau berangkat ke kampus ngumpulin tugas ban depan gentian bocor.. astaghfirullah.. Jagan sampai tugas besar SII yang kukerjain semaleman gak tidur jadi sia2 gara-gara ban.. Nekat aja tetep kunaikin sampai kampus.. setelah sampe ke tukang tambal, ternyata ban depan bocor 2.. Weleh-weleh.. Untung tugas SII gak telat..

· Selasa sore pas pulang ke Bantul, di depan Polres Bantul ban belakang bocor lagi, Ya Allah…; Mosok baru 2 hari ganti bocor lagi….

· Ditambah dengan musibah2 lain yang tidak mungkin disebutkan satu persatu, slow2.. Kalo gak sabar pasti sudah stress kaya caleg2 dan siswa SMA yang gagal UNAS.. Yang paling parah belakangan ini aku sering lupa naruh sesuatu, mulai dari kunci motor, flashdisk, dan lain-lain.. Jadi linglung tingkat akut..

Tetap sabar… Innama’al ‘ussriyusran, seseungguhnya dalam kesulitan ada kemudahan.. Yang ku takutkan, ada orang yang sakit hati terus mendoakan yang jelek2… Mohon diikhlaskan..T-T